Thursday, December 1, 2011

DITENGAH BADAI

Pada suatu hari, seperti biasanya kami berkendaraan menuju ke suatu tempat, dan aku yang mengemudi.

Setelah beberapa puluh kilometer, tiba-tiba awan hitam datang bersama angin kencang. Langit menjadi gelap. Kulihat beberapa kendaraan mulai menepi dan berhenti.

"Bagaimana Ayah? Kita berhenti?", aku bertanya.

"Teruslah mengemudi!", kata Ayah.

Aku tetap menjalankan mobilku.

Langit makin gelap, angin bertiup makin kencang. Hujanpun turun. Beberapa pohon bertumbangan, bahkan ada yang diterbangkan angin. Suasana sangat menakutkan.
Kulihat kendaraan-kendaraan besar juga mulai menepi dan berhenti.

Aku tetap mengemudi dengan bersusah payah. Hujan lebat menghalangi pandanganku sampai hanya berjarak beberapa meter saja.

Anginpun mengguncang-guncangkan mobil kecilku. Aku mulai takut. Tapi aku tetap mengemudi walaupun sangat perlahan.

Setelah melewati beberapa kilometer ke depan, kurasakan hujan mulai mereda dan angin mulai berkurang.

Setelah beberapa killometer lagi, sampailah kami pada daerah yang kering dan kami melihat matahari bersinar muncul dari balik awan.

"Silahkan kalau mau berhenti dan keluarlah", kata Ayah tiba-tiba.

"Kenapa sekarang?", tanyaku heran.

"Agar engkau bisa melihat dirimu seandainya engkau berhenti di tengah badai".

Aku berhenti dan keluar. Kulihat jauh di belakang disana badai masih berlangsung.

Aku membayangkan mereka yang terjebak di sana dan berdoa, semoga mereka selamat.

Dan aku mengerti bahwa jangan pernah berhenti di tengah badai karena akan terjebak dalam ketidak-pastian dan ketakutan kapan badai akan berakhir serta apa yang akan terjadi selanjutnya.


Jika kita sedang menghadapi "badai" kehidupan, teruslah berjalan, jangan berhenti, jangan putus asa karena kita akan tenggelam dalam keadaan yang terus kacau, menakutkan dan penuh ketidak-pastian.

Lakukan saja apa yang dapat kita lakukan, dan yakinkan diri bahwa badai pasti berlalu !
»»  READMORE...

ATURAN SEDERHANA BERBAHAGIA

Seorang lelaki berumur 92 tahun yang mempunyai selera tinggi, percaya diri, dan bangga akan dirinya sendiri, yang selalu berpakaian rapi setiap hari sejak jam 8 pagi, dengan rambutnya yang teratur rapi meskipun dia buta, masuk ke panti jompo hari ini. Istrinya yang berumur 70 tahun baru-baru ini meninggal, sehingga dia harus masuk ke panti jompo.

Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa jam di lobi, Dia tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya telah siap. Ketika dia berjalan mengikuti penunjuk jalan ke elevator, aku menggambarkan keadaan kamarnya yang kecil, termasuk gorden yang ada di jendela kamarnya.

“ Saya menyukainya” , katanya dengan antusias seperti seorang anak kecil berumur 8 tahun yang baru saja mendapatkan seekor anjing.

“ Pak, Anda belum melihat kamarnya, tahan dulu perkataan tersebut” .

“ Hal itu tidak ada hubungannya” , dia menjawab.

“ Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan di awal. ...

Apakah aku akan menyukai kamarku atau tidak, tidak tergantung dari bagaimana perabotannya diatur tapi bagaimana aku mengatur pikiranku. Aku sudah memutuskan menyukainya. Itu adalah keputusan yang kubuat setiap pagi ketika aku bangun tidur.

Aku punya sebuah pilihan; aku bisa menghabiskan waktu di tempat tidur menceritakan kesulitan-kesulitan yang terjadi padaku karena ada bagian tubuhnya yang tidak bisa berfungsi lagi, atau turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-bagian yang masih berfungsi.

Setiap hari adalah hadiah, dan selama mataku terbuka, aku akan memusatkan perhatian pada hari yang baru dan semua kenangan indah dan bahagia yang pernah kualami dan kusimpan. Hanya untuk kali ini dalam hidupku.

Umur yang sudah tua adalah seperti simpanan dibank. Kita akan mengambil dari yang telah kita simpan. Jadi, nasehatku padamu adalah untuk menyimpan sebanyak-banyaknya kebahagiaan di bank kenangan kita.

Terima kasih padamu yang telah mengisi bank kenanganku. Aku sedang menyimpannya “ .


Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi bahagia:

1. Bebaskan hatimu dari rasa benci.
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekhawatiran.
3. Hiduplah dengan sederhana.
4. Berikan lebih banyak (give more)
5. Jangan terlalu banyak mengharap (expectless).
»»  READMORE...

Wednesday, November 30, 2011

MENGAPA HARUS BERTERIAK ?

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya : "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab: "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."

" Tapi..." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.

Sang guru lalu berkata: "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.

Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."

Sang guru masih melanjutkan : "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta?

Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian? " Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya.

Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.

"Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan : "Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda."
»»  READMORE...

Monday, November 28, 2011

ANGIN DAN BULAN ( Persahabatan)

Pada suatu ketika, ada dua teman baik yang hidup bersama di sebuah tempat berteduh dari batu. Ini mungkin terlihat aneh, satunya adalah seekor singa dan yang satu lagi seekor macan. Mereka sudah bertemu sejak mereka masih terlalu muda untuk mengetahui perbedaan antara singa dan macan. Jadi mereka tidak berpikir sama sekali kalau persahabatan mereka itu luar biasa. Ditambah lagi, tempat itu adalah bagian dari gunung-gunung yang tentram. Barang kali karena pengaruh dari seorang bhikkhu hutan lemah lembut yang tinggal di dekat tempat itu. Ia adalah seorang petapa yang tinggal jauh dari penduduk.

Untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, suatu hari dua orang teman tersebut masuk ke dalam perbedaan pendapat yang bodoh.

Si Macan berkata, “Setiap orang tahu kalau rasa dingin datang ketika bulan susut dari purnama ke bulan mati.”

Si Singa berkata, “Dari mana kau mendengar omong kosong tersebut?” “Setiap orang tahu kalau rasa dingin datang ketika bulan bertambah besar dari bulan mati ke purnama!”

Percecokan itu menjadi kuat dan kuat. Tidak ada satu pun yang dapat menyakinkan yang lainnya. Mereka tidak dapat menghasilkan kesimpulan apa pun untuk menyelesaikan perdebatan yang semakin membesar itu. Mereka bahkan mulai memanggil nama masing-masing satu sama lainnya! Khawatir akan persahabatannya, mereka memutuskan untuk pergi dan bertanya kepada bhikkhu hutan terpelajar yang pasti akan tahu tentang hal semacam itu.

Singa dan macan Mengunjungi si petapa yang penuh ketenangan, mereka menunduk memberi hormat dan menanyakan pertanyaan mereka kepadanya. Si Bhikkhu yang bersahabat tersebut berpikir sejenak dan kemudian memberikan jawabannya, “Bisa saja dingin pada bentuk bulan apa pun, dan bulan mati ke bulan purnama dan kembali ke bulan mati lagi. Anginlah yang membawa rasa dingin, apakah itu dari barat, utara ataupun timur. Untuk itu, sedikit banyak kalian berdua benar! Dan tidak ada satu pun dari kalian yang dikalahkan oleh yang lainnya. Hal yang paling penting adalah hidup tanpa perselisihan, untuk tetap bersatu. Kebersamaan tentu saja adalah yang terbaik.”

Singa dan Macan berterima kasih kepada petapa yang bijaksana. Mereka bahagia masih menjadi teman.


Pesan moral : Cuaca datang dan pergi (berubah-ubah), namun persahabatan harus tetap terjalin.
»»  READMORE...

Monday, November 21, 2011

Kakek Mengantri di Rumah Sakit

Pagi itu klinik sangat sibuk → Sekitar pukul 09:30 seorg pria berusia 70-an datang utk mmbuka jahitan pd luka di ibu-jarinya → Saya mnyiapkan berkasnya & memintanya menunggu ◦ sebab semua dokter masih sibuk ◦ mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.

Sewkt menunggu ◦ pria tua itu nampak gelisah ◦ sebentar² melirik ke jam tangannya → Saya merasa kasihan → Jadi ketika sedang luang saya sempatkan utk memeriksa lukanya, & nampaknya cukup baik & kering ◦ tinggal mmbuka jahitan & memasang perban baru → Pekerjaan yg tidak tll sulit, shg atas persetujuan dokter, saya putuskan utk melakukannya sendiri.

Sambil menangani lukanya ◦ saya bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak trburu² → Lelaki tua itu mnjwb tidak, dia hendak ke rmh jompo utk makan siang bersama istrinya, spt yg dilakukannya sehari² → Dia menceritakan bhw istrinya sudah dirawat di sana sejak bbrp wkt & istrinya mngidap penyakit ALZHEIMER
→ Lalu saya bertanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat
→ Dia mnjwb bhw istrinya sudah tidak lagi dapat mngenalinya sejak 5 tahun terakhir.

Saya sangat terkejut & berkata: Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?

Dia tersenyum sambil tangannya menepuk tangan saya & berkata: "Dia memang tidak mngenali saya, tetapi saya masih mngenali dia, kan ?"

Saya terus menahan air mata sampai kakek itu pergi → Cinta kasih seperti itulah yg saya mau dalam hidupku.

Cinta sesungguhnya » tidak bersifat fisik atau romantis.

Cinta sejati » menerima apa adanya:
☑ yg terjadi saat ini
☑ yg sudah terjadi
☑ yg akan terjadi
☑ yg tidak akan pernah terjadi
»»  READMORE...

Sunday, November 20, 2011

Tukang Kayu

Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.
Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut.Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.

“Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini ?”, tanya si tukang kayu.

“Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada”, jawab anak itu.

Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam ‘kesibukan dan kegaduhan’. Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan. “Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin.
»»  READMORE...

Saturday, November 19, 2011

Mengatasi Marah

Elizabeth Kenny, seorang perawat yang menciptakan Kenny Methods untuk perawatan penderita polio, suatu hari bertemu dengan sahabatnya, sesama perawat yang sedang marah-marah. Elizabeth tahu beban-beban pekerjaan temannya tersebut, tetapi ia berusaha menasihati supaya temannya tersebut dapat menjaga emosinya. “Ayolah, berusahalah tetap riang dan tersenyum,” kata Elisabeth.

Dengan nada yang masih agak kesal, temannya berkata, “Mudah bagimu untuk mengatakannya. Dengan beban sebanyak ini bagaimana saya nggak marah-marah tiap hari! Namun, saya sendiri bingung, bagaimana caranya kamu bisa menjaga dirimu supaya tetap tersenyum?”


Dengan senyum khasnya, Elizabeth pun bercerita. Suatu ketika ia sedang begitu marahnya pada temannya karena persoalan yang sebenarnya sepele. Lantas, ia dinasihati ibunya yang kini selalu jadi pedomannya, yakni, “Elizabeth, ingatlah. Orang yang bisa membuatmu marah, berarti ia telah menaklukkanmu.”
Pembaca, sebenarnya marah atau tidaknya kita, lebih tergantung pada respon kita daripada penyebabnya. Sayangnya, kita seringkali membiarkan orang lain maupun situasi yang menaklukkan dan mengendalikan tombol kemarahan kita.

Saat di dalam antrean yang panjang, saat mobil kita disalip, saat berdebat untuk hal-hal yang sepele, saat benda yang kita butuhkan justru macet bekerja, saat tidak mendapatkan pelayanan yang kita harapkan, saat kata-kata orang tidak seperti yang kita harapkan, semuanya dengan cepat memicu api kemarahan kita.
Bertahun-tahun melakukan studi tentang kemarahan melalui kecerdasan emosional, membuat saya yakin amarah bukanlah faktor genetik, bukanlah sesuatu yang tak dapat dikendalikan, tetapi suatu proses yang bisa dipelajari. Sayangnya, tidak banyak sekolah ataupun pembelajaran yang mengajarkan bagaimana kita bisa mengelola kemarahan lebih baik. Padahal, akibat serta dampak negatif dari kemarahan tersebut sudah tidak terhitung banyaknya.

Saya mengenal beberapa orang yang sempat mendekam di penjara karena kemarahannya yang tidak terkendali. Saya pun mengenal karyawan yang kariernya mandek hanya karena pernah khilaf dan kehilangan kendali emosinya di depan bosnya.

Ada juga keluarga yang akhirnya retak gara-gara sang suami tidak bisa mengendalikan emosinya. Bayangkan, sudah berapa banyak ongkos yang harus dibayarkan gara-gara emosi yang tidak terkendali ini.

Berpikir positif
Kadang-kadang memang banyak situasi orang lain akhirnya memicu kemarahan kita. Karena cara berpikir mereka yang aneh, karena kata-kata mereka yang menyakitkan, karena tindakan mereka yang membuat ‘panas’ hati Anda. Apa pun tindakan mereka, sebenarnya ada suatu prinsip yang mengajarkan, “Selalu ada intensi yang baik di balik perilaku seseorang”. Meskipun intensi tersebut tidaklah selalu sesuatu yang pas dan bisa Anda terima, tetapi sesuatu itu bisa jadi positif. Misalkan saja, seorang rekan saya belum lama ini kehilangan seekor ikan arwananya yang berharga jutaan rupiah. Gara-garanya sangat sederhana. Ketika ia sedang keluar kota, istrinya mencoba mencuci akuariumnya. Rupanya justru tindakan itu membunuh ikan mahalnya. Saat pulang, ia begitu murka tahu ikan kesayangannya telah mati. Akhirnya, selama seminggu lebih mereka tidak ngomong satu sama lain, karena betul-betul merasa marah.
Jadi, prinsip pertama yang perlu dipelajari di sini adalah melihat adanya intensi atau niat baik di balik perilaku maupun tindakan seseorang. Dengan cara ini, biasanya level kemarahan kita yang tinggi akan lebih terkendali karena akhirnya kita mulai mecoba melihat bahwa ada alasan yang ’sebenarnya baik’ di balik perilaku seseorang tersebut.

Seperti kisah si istri yang mencuci akuarium suaminya, sebenarnya kan maksudnya baik yakni ‘membersihkan akuarium kotor sehingga ikannya tidak mati’. Namun justru perilaku tersebut membuat ikan suaminya malah mati. Maksudnya si istri sebenarnya kan baik?

Nah, hal berikutnya yang dapat mengendalikan emosi kita adalah memahami bahwa terkadang orang mempunyai banyak masalah dan problem yang di lemparkannya kepada kita. Yang sebenarnya punya masalah dan punya problem adalah orang lain, tetapi karena tidak tahu harus mengeluarkannya ke mana, akhirnya kitalah yang kena getahnya. Dengan memahami hal ini, maka kita pun akan menjadi lebih tenang menghadapi orang lain yang kesal ataupun marah.

Saya pun teringat seorang yang bekerja di bagian customer service yang selalu bisa mengendalikan dirinya dengan baik tatkala menghadapi komplain yang begitu banyak. Saat ditanya mengenai strateginya, ia mengatakan, “Kenapa harus menanggapi orang marah dengan kemarahan? Kita kan tidak apa-apa. Mungkin pihak dianya sedang ribut dengan istri dan anaknya.”
Mungkin dia lagi punya masalah di kantor. Bayangkan, dia mungkin punya masalah dan ternyata produk kami membuatkan masalah ‘baru’ buat dirinya. Itulah sebabnya dia jadi marah-marah. “Saya tidak perlu gusar. Tugas saya justru membantu melegakan bebannya dengan memberikan solusi buatnya.” Wow, sungguh suatu respons yang sangat luar biasa.

Termometer emosimu
Saya sering kali mengajari orang mengendalikan emosi dengan teknik membayangkan seakan-akan dalam tubuh kita terdapat sebuah termometer yang dapat mengukur emosi kita. Berikanlah batas-batas pada termometer emosi kita di mana kita tahu emosi kita masih termasuk wajar dan terkendali. Namun, sadarilah dan waspadalah tatkala kita merasa bahwa termometer emosi kita sudah menunjukkan tanda-tanda alarm yang berbahaya. Untuk bisa peka dengan termometer ini, satu-satunya cara adalah dengan menjadi peka kapankah tanda-tanda bahasa tubuh, reaksi fisik di mana biasanya berarti emosi Anda mulai tidak terkendali.

Seorang sahabat saya mengatakan, “Kalau saya mulai diam dan jantung saya mulai berdegup kencang dan seluruh tubuh saya rasanya siap untuk memukul. Saat itulah saya tahu, kemarahan saya sudah di ambang batas”.
Biasanya kalau sudah begitu, teman saya mengatakan ia akan minta izin keluar ataupun pergi meninggalkan situasi tersebut supaya ia tidak perlu lebih terpicu emosinya. Bahkan, kalau tidak punya pilihan maka yang ia akan lakukan adalah duduk serta mengatur pernapasannya. Intinya, ia berusaha supaya emosinya tidak terpicu semakin ebih tinggi.

Memang, di dalam pelajaran Kecerdasan Emosional terdapat istilah eskalator emosi, yang berarti pada saat emosi kita tidak kita kendalikan, kecenderungannya adalah emosi tersebut biasanya akan menjadi semakin tereskalasi atau semakin meninggi. Kalau tidak percaya cobalah perhatikan orang yang berantem. Awalnya, hanya saling mengejek. Lantas dari situ, mulailah saling memaki dan berikutnya mulailah tindakan fisik terjadi.

Ini menunjukkan proses eskalator emosi, seperti eskalator yang bergerak naik di malmal. Kalau sudah demikian, maka kita harus sadar sebelum eskalator emosi kita bergerak ke atas semakin tak terkendali, kita harus menghentikannya dan kita harus keluar dari eskalator tersebut.

Semoga beberapa butir mutiara pencerahan dari kecerdasan emosional ini membuat kita mampu mengendalikan kemarahan kita menjadi sesuatu yang lebih positif. Mari kita selalu berpegang pada prinsip, “Bukan emosi yang mengendalikan saya tetapi sayalah yang mengendalikan emosi saya setiap hari!”
»»  READMORE...